Berita Utama

Arab Saudi Sebagai Pintu Masuk China Ke Timur Tengah

One Belt One Road/Foto Istimewa/Nusantaranews

One Belt One Road/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Keberpihakan Amerika Serikat dan Rusia dalam pertikaian sektarian di Timur Tengah dimanfaatkan dengan baik oleh China untuk masuk ke Tanah Arab melalui Arab Saudi. Di sinilah China melihat peluang baik untuk mengisi kekosongan tersebut. Dengan komitmen menjaga stabilitas kawasan, China mulai terjun langsung dalam arena konflik di Timur Tengah. Penyelesaian konflik dan stabilitas kawasan kini menjadi ciri khas kebijakan luar negeri Cina di abad ke-21.

China memiliki gagasan besar untuk menghubungkan daratan dan perairan yang membentang dari Cina sampai ke jantung Eropa, dalam koridor jaringan perdagangan dan transportasi sebagai upaya merangsang pertumbuhan ekonomi Asia dan menciptakan pasar baru bagi barang dan jasa China dengan inisitif One Belt One Road. China telah mempersiapkan wilayah Xinjiang sebagai pintu gerbang utama bagi wilayah Timur Tengah dan Asia Selatan.

Alhasil, Presiden China Xi Jiping pun mengunjungi Arab Saudi di awal tahun 2016 lalu, menegosiasikan program reformasi ekonomi pemerintahan Raja Salman. Kunjungan Xi Jiping dibalas Raja Salman setahun kemudian, tepatnya pada 15-18 Maret 2017. China sadar betapa pentingnya tanah Arab. Jika tidak dirangkul, niscaya kepentingan nesionalnya terkait pasokan energi terancam. Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, China pun bereaksi dan tak sudi hanya sekadar menajdi penonton belaka.

Pada Kamis (16/3/2017), Xi dan Raja Salman melakukan pembicaraan serius terkait dengan kerjasama strategis. Pertemuan keduanya menghasilkan sejumlah kesepakatan kerjasama di bidang perdagangan, investasi, keuangan dan energi.

Pertemuan Raja Salman di China berlanjut. Jumat (17/3/2017), Raja Salman bertemu dengan Perdana Menteri China, tepat sehari setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman kerjasama investasi senilai 65 miliar dolar. Seperti dikatakan sebelumnya, perjanjian bertujuan untuk meningkatkan upaya bersama di bidang termasuk energi, investasi, keuangan, budaya dan kedirgantaraan, bagian dari upaya Arab Saudi untuk mengembangkan strategi pertumbuhan kurang bergantung pada minyak.

Beijing menggulirkan program perdagangan dan investasi besar di Asia Tengah dan Timur Tengah melalui One Belt and Road Initiative karena melihat kerajaan padang pasir untuk kepentingan energi nasional negara komunis itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa lebih dari separuh pasokan impor energi China berasal dari kawasan Timur Tengah.

Untuk mengamankan kepentingan energi nasionalnya, China telah menginvestasikan proyek energi di lebih dari 50 negara. Dengan strategi ini, China mampu mengimpor tak kurang dari 60 persen minyak pada 2014 serta 32% gas alam dari beberapa negara. Berdasarkan laporan Pentagon, China telah membeli 51 persen kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah. Di mana 43% pengiriman minyaknya harus melalui Selat Hormuz, sementara 57% melalui Selat Malaka. Dan kepentingan lainnya adalah program Jalur Sutra, yang mencakup pembangunan proyek-proyek infrastruktur di negara kawasan dengan gagasan One Belt One Road.

Dilaporkan Daily Sabah, sebetulnya nilai dari komitmen kerjasama Arab Saudi-China ini masih terbilang kecil tetapi dianggap cukup sebagai permulaan. Arab Saudi pemasok terbesar Cina dalam hal impor minyak mentah sebelum dikalahkan oleh Rusia tahun lalu, dan produsen minyak milik negara kerajaan, Aramco, adalah bermitra dengan produsen minyak milik negara China Petroleum & Chemical Corp di mana keduanya mengoperasikan kilang minyak di Fujian provinsi bersama dengan proyek China lainnya.

Penandatanganan perjanjian tersebut melibatkan 35 proyek terpisah, diikuti pembicaraan Kamis antara Salman dan Presiden Xi Jinping, di mana pemimpin Cina mengatakan hasil dari kerjasama mereka berkembang sudah melampaui harapan. Selain itu, hubungan dalam bidang keamanan kedua negara telah tumbuh secara signifikan. Angkatan Udara dan militer kedua negara telah mengadakan latihan kontra-terorisme bersama di China Barat. Kapal angkatan laut China juga telah mengunjungi pelabuhan Jeddah, Saudi sebagai bagian dari manuver aktif di Teluk Aden.

Namun, China tampaknya harus lebih berhati-hati menjalin kerjasama militer (kontra-terorisme) dengan Arab Saudi. Pasalnya, Arab Saudi bersikeras penggulingan rezim Assad di Suriah dan berseberangan dengan Iran. Artinya, China harus berusaha keras menjaga keseimbangan Iran, Suriah dan Arab Saudi. Sebab jika tidak, sekali lagi China hanya akan tampil ke depan sebagai penonton belaka; sebuah posisi yang telah sejak lama diperankan China atas konflik di Timur Tengah, setikdanya dalam kurun waktu 12 tahun terakhir.

Patut ditunggu langkah kongkret kebijakan Arab Paper sebuah dokumen yang samar-samar mengartikulasikan kepentingan China di Timur Tengah, khususnya dukungan terhadap pemerintah Suriah dalam menyelesaikan konflik yang dirilis 13 Januari 2016 lalu. Selain itu, patut ditunggu pula bagaimana implementasi hasil kesepakatan Xi Jinping dengan Suriah. Sebab, Desember tahun lalu, Xi Jinping mengadakan pertemuan tingkat tinggi di Beijing yang dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moallem dan kepala kelompok oposisi, Koalisi Nasional Suriah (SNC) guna mencari resolusi damai.

Lagi pula, Xi Jinping mulai aktif mencari langkah terobosan agar China dapat terlibat dalam menengahi krisis Suriah. Salah satunya melalui Arab Saudi sebagai pintu masuknya, termasuk Indonesia sebagai negara mayoritas muslim.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar

To Top