Peta Arab/Foto via Fpri/Nusantaranews
Peta Arab/Foto via Fpri/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis Al-Saud disambut gegap gempita oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pasalnya, kunjungan ini merupakan momentum yang bersejarah karena kali terakhir Raja Arab mengunjungi Indonesia 47 tahun silam. Kunjungan Raja Salman juga diharapkan mampu menggelontorkan investasi jumbo seperti yang ditargetkan pemerintah sebesar 25 miliar dollar AS, atau setara Rp333 triliun dalam berbagai bidang.

Kalau mau jujur, ‘menghamburkan’ uang sebetulnya bukan tujuan utama Arab Saudi berkunjung ke Asia, termasuk Indonesia. Seperti diketahui, selama satu bulan penuh Raja Salman beserta rombongan mengunjungi sejumlah negara seperti Jepang, Malaysia, Brunei, Indonesia dan China. Kunjungan kemarin disebut-sebut sebagai wujud nyata langkah Arab Saudi yang tengah berupaya menjalankan program reformasi ekonominya. Sebab, Arab Saudi dinilai berkepentingan mendiversifikasi ekonomi dan sebagai upaya modernisasi tatanan masyarakat karena selama ini lebih dari 85 persen penerimaan negara Arab Saudi berasal dari minyak. Penurunan harga minyak secara tajam memaksa Arab Saudi memikirkan kembali strategi ekonominya. Pada 2015, defisit anggaran Arab Saudi mencapai 366 miliar riyal atau 98 miliar dollar AS dan pada 2016 mencapai 297 miliar riyal pada tahun 2016.

Pertanyaannya, adakah tujuan lain dari lawatan Raja Salman ke Asia?

Hanya sedikit media yang mengulas sisi lain kunjungan Raja Salman ke Asia. Hampir semua media bicara bahwa kunjungan tersebut murni sebagai langkah kongkret Arab Saudi mereformasi kondisi perekonomiannya. Boleh jadi analisa itu benar adanya. Apalagi fakta di permukaan menunjukkan Arab Saudi meneken sejumlah kesepakatan dan perjanjian investasi di negara-negara yang disinggahinya di Asia, termasuk Indonesia.

Namun, mencermati sisi lain lawatan Raja Salman yang berakhir di China mutlak diupayakan sebagai usaha kritis kita dalam melihat hidden agenda yang tersirat sehingga tak melulu bicara ihwal yang tersurat. Benarkah kunjungan Arab Saudi murni hanya untuk kepentingan investasi dan memperkuat hubungan bilateral dan seterusnya?

Indonesia mesti sadar dengan geopolitik Arab Saudi yang amat piawai memainkan pakem Non Blok 1961 dan Asia Afrika Bandung 1955 silam. Seperti disinyalir Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI) Hendrajit, bahwa Arab Saudi datang ke Indonesia sebetulnya membawa agenda strategis untuk mengamankan Jalur Surta yang memiliki mata rantai dengan negara-negara Asia. Khususnya negara-negara Asia yang dilintasi Jalur Sutra, khususnya Jepang, Indonesia dan China.

Patut dicermati, berkunjungnya Raja Salman ke negara-negara Asia yang dilintasi Jalur Sutra merupakan sebuah upaya Arab Saudi untuk menggandeng Jepang dan Indonesia guna mengantarkan Arab Saudi berunding dengan China. Untuk itulah mengapa China kemudian dijadikan negara terakhir dari lawatan panjang Raja Salman. Bukan suatu kebetulan, China juga memiliki program Jalur Sutra Maritim Abad 21 dengan inisiatif one belt one road. China sendiri kini tengah berupaya keras membangun koridor Jalur Sutra Maritim Abad 21 yang menghubungkan daratan dan perairan yang membentang dari China sampai ke jantung Eropa, yang melewati lebih dari 60 negara dalam koridor jaringan perdagangan dan transportasi yang terintegrasi. Suatu pasar yang sangat besar yang melibatkan sekitar 4,4 milyar penduduk dengan agregat ekonomi sekitar US$21 triliun di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Tengah, Timur Tengah, sebagian Afrika, dan Eropa.

“Dengan begitu, maka rangkaian kunjungan Raja Salman ke Jepang, Indonesia dan Cina,¬† kiranya tidak boleh dibaca sekadar sebagai persoalan ekonomi belaka. Ada sasaran geopolitik yang melatarbelakanginya. Kalau kita baca secara geopoltik, sebagai negara di Timur Tengah¬† yang sekian lama berada dalam orbit pengaruh Kerajaan Inggris pasca Perang Dunia I, pastinya Arab Saudi sadar betul bahwa Jepang-Cina-Indonesia merupakan mata-rantai penting dari Jalur Sutra. Sehingga perlu dirangkul sebagai bagian dari kebijakan Arab Saudi membangun kerjasama yang terintegrasi,” tulis Hendrajit.

“Kita jangan eforia kedatangan Raja Salman yang mau gelontorkan uang sebesar 25 miliar dollar AS. Sehingga kunjungan raja Salman semata-mata dibaca sebagai momentum kebangkitan ekonomi Indonesia. Lantas Indonesia nyadar nggak dengan strategi geopolitik Arab Saudi yang sangat piawai memainkan pakem Non Blok 1961 dan Asia Afrika Bandung 1955. Padahal Indonesia lah yang pencetus KAA Bandung 1955 dan KTT Non Blok Beograd 1961. Justru Arab Saudi sekarang tercipta jadi pendulum tengah antara AS verus China. Maka itu, dalam membaca eforia adanya banjir bantuan ekonomi kepada Indonesia, sadarilah bahwa tidak ada makan siang yang gratis!” papar dia.

Penulis: Eriec Dieda/Sumber: GFI

Komentar