Raja Arab Saudi Salman al-Saud/Foto via republika/Nusantaranews
Raja Arab Saudi Salman al-Saud/Foto via republika/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Sebagai negara kepulauan dan berada tepat di bawah garis katulistiwa, Indonesia sesungguhnya surga bagi masa depan sumber energi baru terbarukan (EBT) di seluruh dunia. Situasi ini membuat Indonesia menjadi banyak incaran negara untuk menanam investasi di sektor EBT.

Jelang memasuki globalisasi gelombang ketiga, banyak negara-negara berkembang memprediksi bahwa ketahanan sumber energi global tak lagi digantungkan pada sektor minyak bumi dan energi nuklir. Selain memang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan, karakter sumber energi dari fosil ini cenderung tidak mampu menggaransi kebutuhan energi dunia, karena sifatnya terbatas.

Itulah alasan mengapa energi baru terbarukan (renewable energy) yang menjadi kajian serius yang terus digodok oleh negara-negara maju, seperti Jerman, Inggris, Amerika, India, Cina termasuk Arab. Dalam konteks ini, kunjungan Raja Salman ke Indonesia terkait erat program reformasi ekonomi yang telah diluncurkan pemerintah Arab Saudi pada 2016 lalu.

Itu artinya, kunjungan Raja Salman kali ini seolah menjadi sinyal adanya perubahan arah angin kebijakan geoekonomi Arab Saudi. Semua tahu, selama ini lebih dari 85% penerimaan (pendapatan) Arab Saudi berasal dari minyak bumi.

Penurunan harga minyak bumi secara tajam dua tahun terakhir, memaksa negara Arab memikirkan kembali strategi ekonominya, khususnya di sektor ketahanan energi di masa depan. Pada tahun 2015 lalu, defisit anggaran Arab Saudi sudah mencapai 366 miliar riyal (98 miliar USD).

Menlu RI Retno Marsudi tak membantah bahwa kunjungan Raja Arab untuk melakukan penanaman investasi sebesar 25 miliar dolar AS atau Rp 334 triliun. Dirinya mengatakan bahwa pembangunan refinery di Cilacap, nilainya 6 miliar dolar AS.

Demi mencanangkan program energi hingga 2030 mendatang, pemerintah Saudi Arabia tampaknya telah menyiapkan grand strategy energy security. Sebagaimana yang disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jum’at (24/2) lalu, pemerintah Arab berupaya melakukan kerjasama untuk meningkatkan investasi di luar minyak dan gas (non migas) di Indonesia.

Saat ini, banyak negara-negara berkembang seperti India, Cina, Amerika, Jerman dan Belanda memikirkan tentang grand strategy energy. Dimana negara-negara ini lebih banyak tertarik untuk mengembangkan sektor non-migas. Dengan kata lain menyiapkan cadangan energi di masa depan.

Kedatangan Salman ke Indonesia sebetulnya adalah rangkaian tur kenegaraan Arab Saudi ke kawasan Asia, selain Indonesia, Malaysia, Cina, Jepang, dan Maladewa adalah negara-negara di kawasan Asia yang dikunjunginya, total kunjungan selama 31 hari.

Penulis: Romandhon

Komentar