Nasirun - 1996 - Ratu Segajat (145x90) Oil Paint on Canvas | Dokumentasi Edwin's Gallery (archive.ivaa-online.org)
Nasirun - 1996 - Ratu Segajat (145x90) Oil Paint on Canvas | Dokumentasi Edwin's Gallery (archive.ivaa-online.org)

Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

ANTARA AKU, ANJING KEHAUSAN DAN PELACUR ITU

Pada malam ganjil di sepuluh hari ketiga bulan puasa
Kubaca makna taubat di Kitab Taurat

Dalam takjub yang mencekik
Mulutku tak sanggup memekik
Kureguk keringat Musa di puncak Tursina
Hukum dan keadilan akan bertemu di padang karma
Jiwaku semakin dahaga

Aku tersungkur ke dalam kubur
Menyimak Daud membaca Zabur
Debur cinta apalagi yang lebih indah dari kilau permata
Keindahan tak cuma sebatas mata
Tapi mendidih melelehkan jiwa

Kini kucari kasih yang tanpa pamrih
Pada darah Isa di sepanjang Golgotta
Kasih adalah juru selamat bagi semesta
Sebab sorga tak hanya sekuntum bunga

Di lembah pasrah
Kutemukan anjing kurap menahan gundah
Dahaga mencekik lehernya
Kematian berdiri gagah di depan mata

Lalu pelacur itu
Melepaskan sepatu kusamnya
Bau busuk menyengat di mana-mana
Lebih sampah dari sampah
Lebih tinja dari tinja

Sumur kotor itu pun ditimba dengan sepatu busuknya
Sedangkan di langit
Ribuan malaikat meronta
Dan di atas langit
Berpendar Maha Cahaya

Sumur itu tiba-tiba bening
Dan sepatu itu pun mengharum entah apa sebabnya
Kenapa jiwaku tetap jelaga?

Anjing kurap itu meneteskan air mata
Pelacur itu meneteskan air mata
Ketika hukum dan keadilan pada fatwa Nabi Musa menyentuh hatinya
Ketika keindahan penuh pesona memancar dari syair cinta Nabi Daud
Mengusap ulu hatinya
Manakala kasih tanpa pamrih yang mengalir dari darah Nabi Isa
Mencuci kesepiannya

Tuhanku,
Betapa ganjil rinduku menggigil
Betapa ganjil cintaMu memanggil
Hanya padaMu gigil kasihku memanggil

Di sepertiga malam ini
Kutemukan betapa kotornya diri ini
Lebih anjing dari anjing
Lebih sundal dari sundal
Akankah lebih terhina diriku ini
Ketika kesombongan menjadi saksi
Manakala kepongahan menjadi bukti
Saat mulut terus mencaci
Dan merasa paling benar sendiri?

(Embun Puasa #10, 2017 – Gus Nas Jogja)

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Biografi Lengkap: HM. Nasruddin Anshoriy Ch

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar