Connect
To Top

Anomali Kebijakan Pertanian Amran Sulaiman Versi KPA

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Iwan Nurdin menyatakan ada banyak pihak yang bingung dengan kejatuhan harga padi saat panen raya sekarang. Banyak pihak juga heran nilai tukar petani turun dan upah riil buruh tani turun.

“Padahal ini adalah buah dari kebijakan pertanian sendiri. Pertama mempercepat waktu tanam dengan tanpa mengistirahatkan tanah dengan mengajak tentara turun ke sawah-sawah. Hasilnya adalah panen jatuh lebih cepat, panen raya di musim hujan,” jelas Iwan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/3/2017).

Iwan menilai, panen di musim hujan membuat gabah dipanen dan susah dikeringkan. Padahal teknologi pengeringan masyarakat yang lazim hanyalah matahari. Dengan kadar air yang tinggi dan pengeringan yang lama telah membuat gabah pecah saat digiling.

“Ingat, penggilingan padi kita adalah rice mill kecil milik rakyat dengan teknologi yang kurang baik. Hasilnya beras pecah dan tidak tergiling baik. Beras demikian tentu berharga murah, jadilah gabah petani dibeli murah di tingkat lapangan,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Iwan, ini adalah hasil dari kebijakan subsidi benih yang menguntungkan pengusaha itu. Sebab, pengadaan benih selama ini dengan sistem tender, dicari termurah, telah membuat produsen bisa jadi telah mengurangi mutu benih karena mengejar harga tender murah adalah pemenang.

Ini bisa ditengarai dari laporan bahwa kenaikan produksi gabah tidak naik signifikan. Karena itu impor beras masih dilakukan bahkan pada bulan januari ini.

“Inilah buah kebijakan pertanian kita yang merugikan petani. Produksi tidak naik, harga jatuh. Sekali lagi, turunnya harga gabah bukan karena kelebihan pasokan akibat panen raya,” tegas Iwan.

“Siapa yang untung dari kebijakan pertanian: memberi uang saku bagi tentara dan pengusaha khususnya benih dan traktor,” sambungnya. (rsk/rep)

Editor: Sulaiman

Komentar