Anggota DPR Ini Sebut Bom Cicendo Mirip Operasi Intelijen di Zaman Orba

0
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sodik Mudjahid. Foto Deni Muhtarudin/Nusantaranews
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sodik Mudjahid. Foto Deni Muhtarudin/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Anggota DPR RI, Sodik Mudjahid, menilai bahwa kejadian bom panci di kawasan Cicendo, Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu memiliki banyak kejanggalan.

Bahkan, Sodik pun berani menduga bahwa insiden bom tersebut merupakan sebuah rekayasa belaka. “Bagi saya dan siapapun yang terlibat langsung dalam dinamika ummat dalam berinteraksi dengan aparat keamanan dan pemerintah sejak akhir Orla (Orde Lama), awal Orba (Orde Baru) dan gaya-gaya Pemerintah Jokowi, feeling saya itu (bom cicendo) adalah rekayasa,” ungkapnya kepada Nusantaranews saat dihubungi, Jakarta, Sabtu (18/3/2017).

Sodik menjelaskan, dugaannya tersebut dilandaskan pada dua analisa. “Pertama, analisa saya terhadap beberapa kesamaan sikon (situasi kondisi) dan kesamaan perilaku aparat dan perilaku intelijen zaman akhir Orla dan zaman Orba dan zaman Jokowi. Kedua, keanehan kualitas dan profesonalisme pelaku yang jauh dari seharusnya seorang teroris,” ujarnya.

Menurutnya, banyak motif yang bisa dikembangkan kenapa insiden bom tersebut diduga kuat sebagai sebuah rekayasa. “Kita harus diskusi panjang (soal motif rekayasa). Untuk sementara bisa dikatakan saja bahwa bom di Bandung janggal, seperti janggalnya teroris di Thamrin dan yang lain-lain,” katanya.

Namun Sodik pun mencontohkan salah satu motifnya, yakni dimunculkannya dugaan adanya kelompok teroris Anshorut Daulah di Bandung yang disebut-sebut berafiliasi dengan kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Hal itu dilakukan untuk menarik perhatian dari Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdul Aziz Al Saud, yang beberapa waktu lalu melakukan kunjungan ke Indonesia.

“Maka Pemerintah ingin kirim pesan ke Pemerintah Arab Saudi bahwa ISIS sudah masuk Indonesia, dan kami (Indonesia) juga jadi ancaman mereka (ISIS), jadi (artinya) senasib dengan Arab Saudi, tapi kami (Indonesia) selama ini berhasil melumpuhkannya,” ungkapnya.

Pasalnya, lanjut Sodik, salah satu agenda kunjungan Raja Salman atau pembicaraan kerja sama yang akan dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi dan Pemerintah Indonesia adalah penanganan secara bersama-sama terhadap terorisme dan radikalisme.

“Jadi pesannya ke Raja Salman, Kita (Indonesia-Arab Saudi) senasib jadi sasaran teror kaki tangan ISIS, tapi kami (Indonesia) sudah berhasil mencegahnya, maka bantulah kami (memberantas penuh),” ujarnya.

Terkait lokasi peledakan bom panci sendiri, Sodik menambahkan, hal tersebut sudah diatur sedemikian rupa. Pasalnya, menurut Sodik, pada 11 Maret tahun 1981 silam, Kepolisian Sektor (Polsek) Cicendo pernah diserang oleh kelompok yang disebut oleh aparat pada waktu adalah sebuah organisasi teroris Jamaah Imran (Jamaah Imran adalah kumpulan anak-anak muda yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad Zein).

“Kalau bom di Jakarta ya nanti Raja Salman cepat-cepat pulang dan nggak percaya keamanan Indonesia. Pemilihan tenpat tdi diatur. Bagi yang mengamati lama seperti saya, maka feeling tersebut (rekayasa) sudah terbentuk,” katanya. (DM)

Komentar