Perang Dangan Cina vs Amerika Serikat. Foto Ilustrasi/Zerohedge
Perang Dangan Cina vs Amerika Serikat. Foto Ilustrasi/Zerohedge

NUSANTARANEWS.CO – Mundur dari Kemitraan Trans Pasifik (TPP) menandai hari pertama kerja Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Trump dilaporkan telah mencabut AS dari TPP, sebuah kemitraan strategis kawasan Asia Pasifik yang sebelumnya dibangun Barack Obama.

Keputusan ini diambil Trump karena dirinya menilai TPP adalah bencana karena bisa merugikan perusahaan-perusahaan Amerika.

Menyikapi pengunduran diri AS, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull sangat menyayangkannya. Bagi Turnbull, perginya AS adalah pukulan telak karena TPP merupakan kemitraan strategis kesepakatan perdagangan di kawasan Asia Pasifik. Untuk itu, Turnbull berharap kongres segera melakukan pembicaraan menyikapi keputusan Trump guna menyelamatkan sejumlah kesepakatan yang telah ditandatangani sekaligus meratifikasi perjanjian.

Seperti diketahui, TPP yang mencakup 40% ekonomi dunia dirundingkan pada 2015 oleh sejumlah negara, termasuk Amerika, Jepang, Malaysia, Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Meksiko. TPP ditujukan untuk memperkuat hubungan ekonomi dan memicu pertumbuhan, termasuk dengan memangkas tarif. Beberapa langkah yang disepakati negara-negara anggota TPP antara lain adalah standardisasi ketenagakerjaan, lingkungan, hak cipta, paten, dan proteksi-proteksi hukum lainnya.

“Mundurnya Amerika Serikat dari TPP adalah kerugian besar, tidak ada pertanyaan tentang itu. Tapi kita tidak akan mengikuti langkahnya. Ada potensi Cina akan bergabung dengan TPP,” kata Turnbull kepada wartawan di Canberra seperti dilansir Sputnik.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Australia, Steven Ciobo mendukung gagasan Turnbull untuk memasukkan Cina dan negara-negara Asia lainnya bergabung sekaligus merevisi kesepakatan dan perjanjian, termasuk Indonesia.

“Tentu saja saya tahu bahwa Indonesia telah menyatakan minat dan akan ada ruang untuk Cina jika kita mampu untuk merumuskan itu,” ujar Ciobo.

Menanggapi keinginan Australia, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying belum berani memastikan apakah Cina tertarik untuk bergabung dengan TPP. Tetapi, Cina ingin melihat-lihat terlebih dahulu kesepakatan perdagangan bebas di forum tersebut.

“Kami berpikir bahwa dalam situasi sekarang, apa pun yang terjadi, semua harus terusĀ  jalan terbuka, inklusif, pembangunan berkelanjutan, mencari kerjasama dan keuntungan bersama,” kata Hua Chunying.

Kendati Cina belum menyatakan ketertarikannya, keputusan AS mundur diyakini akan dimanfaatkan Cina untuk bergabung dengan TPP. Pasalnya, Cina tentu sangat berkepentingan memperluas pengaruhnya di kawasan Asia Pasifik.

“Indonesia atau Cina bisa ditambahkan ke TPP setelah Amerika Serikat mundur,” kata Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer.

Sementara itu, ekonom senior Jepang Hidenobu Tokuda turut menyayangkan mundurnya AS dari TPP. Pasalnya, kata dia, Trump tersebut akan mengakibatkan pergeseran pengaruh di kawasan Asia Pasifik.

“Cina akan mempromisikan diri yang kini memimpin RCEP. Tanpa TPP, Cina akan memperluas pengaruhnya di kawasan Asia. Selain itu, Cina juga akan mengambil pelauang ini untuk keuntungannya, termasuk memperkuat kepentingan yang sekaligus akan menjadi tantangan bagi AS di seluruh kawasan Asia,” ujar Tokuda.

Tokuda menambahkan, keputusan AS menarik diri dari TPP tak akan banyak berpengaruh pada pemerintahan Trump. Justru, kata dia, langkah Trump tersebut akan memberikan dampak negatif jangka panjang pada AS sendiri karena akan merusak potensi pertumbuhan di masa depan. Dia juga meragukan strategi Washington untuk mencoba bernegosiasi suatu penawaran perdagangan dengan negara-negara Asia-Pasifik. (Sego/Er)

Komentar