Berita Utama

Aktivis Bela Tanah Air: Benarkah Indonesia Xenofobia?

Eks relawan Jokowi tahun 2014, Ferdinand Hutahaean. Foto via Kabarterbaru
Eks relawan Jokowi tahun 2014, Ferdinand Hutahaean. Foto via Kabarterbaru

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan kenegaraan Presiden Hollande dari Prancis, Rabu (29/3/2017) kemarin.

Aktivis Rumah Amanat Rakyat Ferdinand Hutahaean menyatakan kunjungan tersebut tidak sehangat dan tidak seheboh kunjungan Raja Salman beberapa waktu lalu meski Prancis memiliki Investasi lebih besar di Indonesia.

“Namun bagi saya kali ini bukan masalah investasi yang mencuri perhatian saya, bukan Hollande yang jadi perhatian saya, namun yang menjadi perhatian serius bagi saya adalah pernyataan ‘Xenofobia’ yang jadi topik bahasan Presiden Jokowi dan Presiden Hollande,” ujar Ferdinan dalam keterangannya, Kamis (30/3/2017).

Menurut keterangan Aktivis Bela Tanah Air itu, Xenofobia merupakan ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain atau yang dianggap asing. “Salah satu kasus yang mencuat di Indonesia, masalah xenofobia terjadi terhadap etnis Tionghoa atau China.” Demikian sepenggal ujaran yang dikutip Derdinand dari media online VIVA.co.id.

“Pernyataan tersebut jelas menbuat saya heran dan kaget, saya berpikir sejenak, sejak kapan Indonesia pernah xenofobia? Sejak kapan Indonesia takut dengan Cina? Bukankah nenek moyang bangsa ini sudah pernah melawan bangsa-bangsa besar berperang tanpa takut? Bukankah Singosari pernah mengalahkan dan mengusir serbuan bangsa Cina Mongol tahun 1293? Bukankah leluhur bangsa ini Jayakatwang dan Raden Wijaya mengalahkan dan mengusir pasukan Kubilai Khan yang dikomandani Shi Bi, Ike Mese, Gaoxing pada tahun 1293? Lantas atas dasar apa Presiden Jokowi menyebut Indonesia Xenofobia terhadap Cina?,” tegasnya.

Ferdinand pun mencoba merunut peristiwa yang terjadi di tengah bangsa ini yang terkait dengan isu Cina. Menurut dia ada 4 besar isu terkait Cina yang sedang bergejolak. Yang pertama, katanya, adalah Pilkada Gubernur DKI Jakarta yang salah satu kandidatnya adalah Basuki Tjahaja Purnama yang keturunan Cina.

“Yang Kedua adalah isu serbuan Tenaga Kerja Ilegal yang berasal dari Cina. Ketiga adalah Reklamasi Pantai Utara Jakarta yang diisukan telah di jual dan di iklankan di daratan Cina dan Hongkong. Yang keempat adalah isu tentang narkoba yang yang dalam jumlah besar berasal dari cina,” imbuhnya.

Ke empat isu diatas, bagi dia, memang membuat Indonesia menjadi tidak suka dengan Cina, tapi bukan takut seperti yang digambarkan dengan kata xenofobia.

“Xenofobia itu terlalu berlebihan untuk disematkan kepada bangsa ini. Bangsa ini tidaklah takut sama sekali dengan Cina, bangsa ini tidak takut sama sekali untuk mengusir Cina seperti yang dilakukan Jaya Katwang dan Raden Wijaya, bangsa ini memang tidak suka terhadap 4 isu diatas tapi bukan tidak suka terhadap Cina secara keseluruhan karena banyak orang Cina menjadi Warga Negara Indonesia dan diakui sebagai etnis di negara ini,” kata Ferdinand. (rsk/rep)

Editor: Achmad Sulaiman

Komentar

To Top