Ahok Kalah Telak Lantaran Blunder Sembako

0
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Foto: CNN Indonesia
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Foto: CNN Indonesia

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Hasil hitung cepat (quick count) oleh sejumlah lembaga survei kompak menunjukkan perolehan suara Pilgub DKI Jakarta, Rabu (19/4/2017) menunjukkan posisi Basuki Tjaha Purnama alias Ahok-Djarot Saiful Hidayat berada di bawah perolehan suara pasangan Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Solahudin Uno.

Hanya butuh beberapa jam bagi sejumlah lembaga survei untuk mendapatkan hasil hitung cepat. Salah satunya adalah Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dikomando oleh Denny JA. LSI, tepat pada pukul 15.00 mengumumkan Selamat Datang Gubernur Baru Anies-Sandi seperti dikutip dari keterangan tertulisnya.

Simak: Anies-Sandi Menang di TPS Penjaringan Lokasi yang Digusur Ahok

Tidak hanya itu, Denny juga meneguhkan hasil Exit Poll yang sudah ia umumkan di social media pada pukul 12.15, bahwa Jakarta punya gubernur baru.

“Baik hasil exit poll ataupun quick count, Anies-Sandi di angka 54-56 persen, Ahok Djarot di angka 44-46 persen. Selisih kedua pasangan ini mirip dengan selisih survei LSI Denny JA bulan April 2016, sekitar 8-9 persen,” terangnya.

Perolehan suara Ahok-Djarot di bawah Anies-Sandi menurut analisa Denny JA terdapat dua hal penting, yang hal itu bisa dijadikan pelajaran. “Dua hal penyebab kalahnya Ahok dalam margin yang cukup besar,” ujar Denny.

Baca: Ahok-Djarot Tumbang, Basuki Tjahaja Jadi Pergunjingan Dunia Internasional

Faktor pertama adalah persoalan pembagian sembako di masa hari tenang yang nampak dilakukan oleh rewalawan Ahok. Denny menyebutnya sebagai blunder sembako.

“Di hari tenang, ramai diberitakan gerilya sembako untuk pemilih miskin kota. Apa hasilnya? Kekalahan Ahok justru melebar,” kata Denny. Menurut Denny, publik atau warga Jakarta suda tidak lagi bisa menerima manuver yang menyalahi aturan seperti pembagian sembako di hari tenang.

Fakto pertama ini didukung oleh salah satu isi surat terbuka yang ditulis oleh Mantan Komisioner KPU dan Dosen Universitas Indonesia Chusnul Mar’iyah yang dikhususkan buat Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dengan judul “ini Pilkada Brutal“.

“Apakah Bapak Presiden memperhatikan Pilkada DKI 19 April besok (hari ini)? Apakah Bapak Presiden sengaja membiarkan pemilu paling brutal, tidak malu membagi sembako, rakyat disuap dengan sembako dan uang? Apa Bapak tidak tersinggung rakyat dihina dengan sembako? Bahkan, ada foto menyuap sembako dengan dikawal aparat Negara yang harusnya tidak boleh memihak?” demikian bunya awalan surat Chusnul Mar’iyah yang menyebar di media sosial jelang pemungutan suara.

Faktor yang kedua adalah faktor Prabowo Subianto selaku ketua umum Partai Gerindra selaku pengusung Anies-Sandi. “Hadirnya Prabowo yang menegaskan komitmen Anies atas isu kebangsaan, kebhinekaan, tapi yang berkeadilan,” kata Denny.

Pantau: Suara Ahok-Djarot Stagnan Di Pilkada DKI Versi Quick Count Sementara

Seperti diketahui bersama, Prabowo secara intens menyatakan akan menurunkan Anies-Sandi jika mereka tak setia pada konstitusi dan Pancasila. Namun sekaligus menyatakan pentingnya pemimpin yang lebih peka pada agama masyarakat dan keadilan.

“Isu yang dibawa Prabowo itu menyenangkan pemilih kelas menengah. Prabowo’s Factor bisa mengimbangi tone kampanye Anies-Sandi yang selama ini diframe lawannya terlalu ke kanan. Tak heran, Anies-Sandi menang cukup telak,” ungkap Denny.

Pewarta/Editor: Achmad Sulaiman

Komentar