Ahok Jadi Tersangka, Demo 25 November 2016 Gugur?

0
Edaran Pesan Berantai Soal Aksi Bela Islam III atas nama Habib Rizieq/Foto Ilustrasi SelArt/Nusantaranews
Edaran Pesan Berantai Soal Aksi Bela Islam III atas nama Habib Rizieq/Foto Ilustrasi SelArt/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Bermula dari pernyataan gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di kepulauan seribu yang diduga menistakan agama, lantaran menyinggung surat Al-Maidah ayat 51, segenap umat Islam gelar aksi damai I dan II. Pada Aksi Bela Islam II 4 November 2016 fokus tuntutannya adalah meminta aparat untuk menjalankan proses hukum terhadap Ahok.

Kemudian, menyusul kabar dari pihak pengunjuk rasa 411 bahwa demo susulan “Aksi Bela Islam III” akan digelar pada tanggal 25 November 2016 mendatang. Aksi Bela Islam III akan digelar apabila proses Hukum terhadap Ahok tidak berjalan. Bahkan sejumlah pihak dikabarkan telah mempersiapkan demo 25 November ini.

Ditambah lagi, datangnya pernyataan dari Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal yang mengungkap rencana KSPI untuk menggelar demo bersama 1,7 juta buruh yang dipimpinnya pada 25 November 2016. Namun, unjuk rasa oleh KSPI ini di luar persoalan agama melainkan soal arogansi kekuasaan. Walaupun tidak karena persoalan penistaan agama, KSPI menyatakan akan bergabung dengan massa unjuk rasa Aksi Bela Islam III. Akan tetapi, rencana KSPI ini akan gugur jika Ahok ditetap sebagai tersangka.

Di luar itu, para pengamat dan politisi ada yang menyatakan bahwa, demo pada 4 November merupakan awal dari hadirnya gerakan baru, atau meminjam istilah Syahganda Nainggolan, ini baru awal dari revolusi. Ada benarnya, anggapan ini, bahwa Indonesia memang nampak mengalami peralihan setiap 20 tahun sekali. Rentetan sejarah peralihan tersebut bisa disebut mulai lahirnya Boedi Utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), Peristiwa Madiun (1948), Berakhirnya Orde Lama (1968), kemudian tahun 1998 (30 tahun/reformasi/tumbangnya rezim Orde Baru).

Kini usia kemenangan Reformasi sudah mendekati usia 20 tahun. Adakah kemungkinan peralihan kepemimpinan akan terjadi lagi dengan tanda-tanda yang sudah ada, misal demo 4 November 2016 yang disebut-sebut sebagai demo terbesar dan terdamai sepanjang sejarah unjuk rasa di Indosia?

Menariknya, peralihan setiap 20 tahun itu senantiasa ditandai dengan lahirnya generasi baru di Indonesia, lengkap dengan tokoh-tokohnya. Lalu kini, apakah ujung dari persoalan penistaan agama adalah lahirnya gerakan besar-besar di Indonesia seperti yang dibayangkan beberapa politisi? Dimana para generasi baru akan lahir dan mengambil peran penting di negeri penuh cinta kasih ini?

Terakhir (terlepas dari soal aktor politik atau aktor intelektual di balik demo 411) melanjutkan diskusi publik bertema “TNI-Polri: Alat Negara atau Alat Kekuasaan” di kawasan Menteng, Minggu (13/11/2016) lalu. Kini nampak jelas bahwa Polri berpihak pada keadilan. Sementara TNI semakin teguh dengan sumpah prajurit dan sapta marganya, meski tanpa harus diarahkan dan ingatkan oleh Presiden Joko Widodo lewat program safari militernya. Jadi, bagaimana cara menyikapi situasi yang nampak kurang kondusif ini? (Sulaiman)

Komentar