Penjemuran Gabah/Foto via republika
Penjemuran Gabah/Foto via republika

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Merespon fenomena anjoknya harga gabah dibeberapa wilayah di Indonesia seperti yang menerpa petani di Ciamis hingga Sumbawa Barat Provinsi NTB, pengamat ekonomi politik Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng melayangkan kritikan dan masukan terhadap Menteri Pertanian (Mentan).  Menurut dia, alasan rendahnya kadar air pada gabah sebagai pemicu anjloknya harga gabah sebagaimana diungkapka oleh Mentan itu ia anggap tidak masuk akal.

“Masalah petani bukan saja masalah kadar air hasil pertanian yang menyebabkan harga jatuh. Kalau begitu doakan setiap menjelang panen begini hujan lebat agar kadar air gabah petani tinggi, dengan demikian maka para pebisnis dan Lembaga Negara Bulog bisa membeli gabah dengan harga rendah dan dapat untung besar,” kata Salamuddin Daeng kepada redaksi, Senin (6/3/2017).

Menurutnya, sebagai Mentan, Amran Sulaiman mestinya harus menangani masalah pertanian dengan bijak. Untuk itu, Salamuddin menjelaskan, dalam masalah ini, menyarankan agar Mentan harus penyelesaian masalah-masalah yang paling pokok pada petani.

“Sekarang tidak ada lagi subsidi pertanian baik subsidi sarana produksi, subsidi bunga dan sistem asuransi hasil pertanian. Bayangkan jika banjir yang marak belakangan ini bisa menyebabkan gagal panen. Ini akan semakin membuat petani tercekik. Sudah bangkrut harus menanggung utang pula. Seharusnya ada mekanisme asuransi gagal panen yang dibiayai oleh negara,” sambung dia.

Menurut dia tidak adanya mekanisme harga dasar atau harga yang harus diterima petani, membuat para petani menjadi alat permainan Bulog yang sudah berubah fungsi sebagai perseroan terbatas. Bahkan lanjut dia, Bulog hanya mencari keuntungan dari bisnis hasil pertanian dan pangan impor. “Ini kejahatan ekonomi terhadap petani,” tandasnya.

Editor: Romandhon

Komentar