Kreatifitas

Ada Keajaiban Cinta – Kisah Luhur Satya Pambudi

The True Love By Elena Kotliarker | Fine Art America
The True Love By Elena Kotliarker | Fine Art America

NUSANTARANEWS.CO – Semakin mantap sudah hati Renata untuk Devon, lelaki cerdas teman kuliahnya di S2 yang penuh perhatian kepadanya. Mereka mulai membicarakan rencana mewujudkan keluarga nan sempurna. Belum pernah sebelumnya, Renata mengenal lelaki yang demikian matang dalam bersikap. Satu hal yang mengesankan perempuan rupawan itu adalah kemampuan Devon menghadapi ayahnya. Sejumlah lelaki pernah singgah di hati Renata, bahkan mereka sempat berpacaran, tapi semua selalu terpental ketika diajak bicara ayahnya. Kian yakinlah Renata bahwa Devon merupakan kandidat suami terbaik yang dinantinya selama ini.

Namun, yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Bermula dari teman baiknya yang mengatakan Devon telah memiliki istri maupun anak di lain kota. Tentu semula gadis itu tidak percaya. Ternyata benar demikian faktanya. Ketika Renata telah mendapatkan bukti yang cukup, lelaki itu tak mampu lagi berkelit.

“Silakan pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali dalam hidupku!” kata Renata emosional.

”Ren, aku minta maaf. Aku tak bermaksud berdusta padamu,” jawab Devon.

”Kata-katamu tiada maknanya lagi. Enyah sajalah kau segera!”

Begitu nyeri terasa hati Renata mendapati kenyataan pahit tersebut. Sepertinya tak akan mudah baginya jatuh cinta lagi.

***

Hampir genap setahun Radya berpacaran dengan Karlinda. Adalah Ronny, sahabat Radya di tempat kerja, yang memperkenalkan dirinya dengan gadis yang enam tahun lebih muda ketimbang Radya. Semula, lelaki berusia tiga puluhan tersebut keberatan dengan gagasan Ronny menjodohkannya karena perempuan itu berada cukup jauh dari kota tempat tinggalnya. Ternyata ketika mereka bisa sesekali bertemu, terdapat sejumlah hal yang selaras di antara mereka. Cinta pun bersemi di kalbu Radya dan Karlinda. Tatkala kemudian Radya melamar kekasihnya, Karlinda serta-merta menerimanya. Tanggal dan bulan pernikahan bahkan sudah ditentukan. Sehabis itu mereka resmi bertunangan. Namun, semakin dekat menuju tanggal pernikahan, Radya dan Karlinda justru kerap berselisih paham. Kian banyak hal tak sejalan terkuak di antara mereka. Akhirnya mereka berdua sepakat berpisah.

”Senyampang belum telanjur menikah, mending kita batalkan saja pertunangan ini. Aku tak mau bahtera rumah tangga kita terempas badai perceraian,” ujar Radya mencoba tegar karena sadar masih mencintai Karlinda.

”Iya, Kak. Tampaknya cinta tak cukup menyelesaikan perbedaan kita. Lebih baik sekarang kita berpisah. Semoga Kak Radya segera mendapatkan pasangan jiwa nan sejati,” sahut Karlinda berlinang air mata. Radya mengangguk pelan dan memberikan pelukan terakhir bagi mantan kekasihnya.

***

Renata dan Radya bertemu kembali dalam sebuah reuni SD, yang diadakan dua puluh dua tahun setelah mereka lulus. Selama enam tahun di bangku sekolah dasar, mereka senantiasa menjadi teman sekelas, bahkan pernah pula duduk bersisian. Sehabis lulus SD, mereka hanya pernah sekali berjumpa dalam reuni sewaktu mereka SMA. Belasan tahun selepas SMA, baru kali ini Renata dan Radya kembali bersua.

Ketika mereka bersalaman, tiada terasa istimewa. Mereka hanya tahu dari teman-teman lainnya bahwa baik Renata maupun Radya masih sendiri. Selain mereka berdua, sejumlah teman mereka juga belum menikah. Seraya menyiapkan konsumsi bagi teman-temannya, ada sedikit perbincangan di antara Renata, Via, dan Neni. Via, sahabat Renata sejak kecil secara iseng bertanya,

”Ren, ada empat teman kita yang belum punya istri, tuh. Kira-kira, ada nggak yang  layak jadi pendamping hidupmu kelak?”

”Hmm… Aku belum sempat berpikir sejauh itu. Tapi kalau dilihat sekilas, aku cukup tertarik pada Radya. Selain sudah mapan hidupnya, dia kan ganteng dan gagah pula. Tapi jangan bilang teman-teman yang lain, ya,” bisik Renata tersipu-sipu disambut senyuman Via maupun Neni.

Di sisi yang lain, Radya ternyata merasakan hal yang hampir sama. Renata merupakan gadis paling menarik di antara mereka yang masih lajang. Namun, lelaki itu tak sampai mengungkapkan apa yang dirasakannya pada siapa pun sepanjang reuni berlangsung. Ia hanya berharap dapat segera menjumpai Renata kembali seusai acara itu.

***

Radya bekerja di sebuah pulau yang jauh dari tempat tinggal orangtuanya yang sekota dengan Renata. Sehabis reuni, ia langsung kembali ke tempat tugasnya. Tanpa terduga, sebagian teman mereka -setelah reuni itu- mendesak dirinya dan Renata supaya segera jadian saja. Tidak hanya Via dan Neni, tapi juga teman-teman lainnya juga mendorong mereka berdua. Ternyata gayung pun bersambut. Mereka berdua mulai berkomunikasi yang lama-lama intensif, justru kala mereka sedang berjauhan. Radya maupun Renata membuka diri masing-masing. Lambat laun mereka merasa semakin dekat satu dengan lainnya.

“Terus terang, aku memang pernah sangat kecewa. Sehabis itu, kututup hatiku untuk hadirnya kembali sebuah cinta. Aku selalu berdoa, kelak ada laki-laki yang membuat hatiku kembali berbunga-bunga. Tapi aku tak tahu kapan saat itu tiba, Radya,” ungkap Renata dalam sebuah pembicaraan di telepon.

“Rena, aku juga pernah kecewa sekali. Saat itu kami bahkan telah bertunangan. Aku pun sempat terpuruk, tiada daya tanpa cinta. Tapi kuyakin akan datang pasangan jiwaku, pada waktu dan dengan cara yang indah. Kenapa tak kau coba meyakininya pula? Dan bisa saja kita berdua merupakan pasangan jiwa, bukan?” ujar Radya rada mengejutkan.

“Kita pasangan jiwa, Radya?” kata Renata dengan hati berdebar.

“Hal itu tidak mustahil, bukan? Setidaknya kita bisa mencoba menjalani sebuah hubungan baru.”

”Iya, memang mungkin saja.”

”Hmm… Jadi, apakah Renata Kusumadewi bersedia menjadi kekasihku?”

“Maaf, Radya. Apakah hal itu tak terlalu cepat bagi kita?”

“Rasanya sudah terlampau lama kita sama-sama sendiri. Coba, apalagi yang mesti kita tunggu? Kita sudah pernah merasakan pahitnya cinta itu seperti apa. Siapa tahu, Tuhan kini memberikan momentum bagi kita merasakan manisnya cinta sejati, yang begitu lama kita nanti. Bagaimana jika kita coba dulu? Barangkali kita memang berjodoh, teman lamaku.”

”Hmm… Baiklah, aku mau mencobanya. Aku juga ingin merasakan manisnya cinta seperti yang kau bilang tadi. Jadi, sekarang aku punya kekasih bernama Radya Andromeda, nih?”

Tawa mereka pun berderai sarat keceriaan. Maka sejak malam itu Radya dan Renata resmi berpacaran, kendati mereka berdua masih terpisah jarak yang tak dekat. Hari demi hari terasa lebih ringan dan membahagiakan bagi kedua sejoli itu. Bisa jadi mereka tengah mendapatkan keajaiban cinta. Serta-merta menguaplah segala cerita sedih yang pernah mereka lewati. Saban malam sepulang bekerja, Radya selalu menelepon teman lamanya yang menjadi teman teristimewanya kini. Bahkan Renata tak perlu lagi berpikir panjang dan bersedia saja, ketika Radya mengungkapkan rencana melamar dirinya. Ternyata tak susah baginya jatuh cinta lagi kala berjumpa Radya, bahkan betapa indah terasa hidupnya saat ini.

Ketika dua minggu kemudian Radya pulang ke kotanya, Renata menyambutnya dengan sukacita. Ia menjemput kekasihnya di bandara bersama adik Radya yang sudah lama pula dikenalnya, karena ia teman sekelas adik Renata di SD dahulu.

”Sekarang ada seseorang yang paling istimewa menanti ketika aku pulang. Sungguh, ini kebahagiaan yang belum pernah kurasakan sepanjang usia, Adinda Renata,” ucap Radya sehabis mencium kening Renata lantas memeluknya.

”Ada kegembiraan yang tak cukup terkatakan saat menjumpaimu lagi kini, Mas Radya,” sahut Renata sedikit kikuk memanggil Radya dengan sebutan ’mas’.

”Lucu, ya? Saat terakhir ketemu, kita hanya dua teman lama yang baru berjumpa lagi. Sekarang kita memiliki status yang berbeda, sebagai sepasang kekasih.”

”Kurasa sudah saatnya kita melangkah lebih jauh lagi, Mas.”

”Iya, tak lama lagi kita pasti bakal menjadi suami istri,” kata Radya sangat yakin.

***

Radya langsung memperkenalkan Renata pada ayah ibu serta adik-adiknya sebagai calon pendamping hidupnya. Semua anggota keluarga Radya menerima kehadiran Renata dengan rasa syukur dan hati riang. Lantas tiba giliran Renata membawa calon suaminya menghadap orangtua maupun saudara-saudaranya. Radya sempat keder menghadapi ayah Renata, yang konon keras hati dan selalu memegang teguh prinsipnya sendiri. Hal itulah yang membuat sejumlah laki-laki yang pernah mendekati Renata memilih mundur teratur. Namun, Radya bertekad terus maju demi kebahagiaan hidup yang ingin digapainya segera.

“Bapak, saya sungguh berniat menyenangkan hati Adinda Renata. Saya mohon, Bapak sudi memberi kepercayaan agar saya dapat hidup bahagia bersama putri Bapak,” ucap Radya di depan ayah Renata.

”Rasanya masih berat bagiku melepas Renata pada lelaki yang belum kukenal betul. Dan aku sungguh tak sudi, jika putriku mesti hancur lagi hatinya seperti tempo hari,” jawab ayah Renata.

”Bagaimana jika kita lebih sering bicara berdua, Bapak? Saya yakin Bapak akan mengenali siapa sejatinya saya. Percayalah, saya tidak akan menyakiti hati putri Bapak.”

”Sudahlah, Pak. Mungkin kini saatnya Tuhan mengabulkan doa kita dan Renata akhirnya mendapatkan jodohnya. Ingatlah bahwa putri kita semakin tambah umurnya. Lagi pula, Nak Radya ini kan sudah lama kenal dengan Renata,” sela ibu Renata yang duduk menemani suaminya. Satu lagi keajaiban, ayah Renata langsung luluh hatinya mendengarkan kata-kata istrinya.

”Baiklah, jika Nak Radya memang serius, kapan orangtuamu akan datang kemari?” kata ayah Renata lagi.

”Jadi, Bapak setuju saya menikahi Renata? Terima kasih sekali, Pak. Secepatnya saya akan segera datang bersama kedua orangtua saya untuk melamar putri Bapak,” sahut Radya dengan raut wajah cemerlang.

Betapa lega kalbu Renata, ayahnya bersedia menerima teman lamanya itu sebagai calon menantunya. Rasanya jalan begitu lapang dan masa berjalan sangat cepat mereka lewati menuju terciptanya mahligai rumah tangga yang didamba. Sejak Renata berjumpa dengan Radya dalam reuni SD itu, hingga akhirnya mereka menikah, hanya sekitar tiga bulan waktu yang diperlukan. Teman-teman satu sekolah mereka sangat gembira melihat Renata dan Radya telah bersanding di pelaminan. Memang tak salah apa kata pepatah,  apabila sudah jodoh tak akan lari ke mana, pasti akan bersua pula pada saat yang tepat.[]

Simak:
Dilema Sang Putri Raja
Menjelang Tiba Ujung Senja
Balada Bintang yang Telah Padam

*Luhur Satya Pambudi, lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media, antara lain Tribun Jabar, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, dan Bali Post. Kumpulan cerpen pertamanya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar

To Top