Menristekdikti Muhammad Nasir/Foto nusantaranews via viva
Menristekdikti Muhammad Nasir/Foto nusantaranews via viva
Menristekdikti Muhammad Nasir/Foto nusantaranews via viva
Menristekdikti Muhammad Nasir/Foto nusantaranews via viva

NUSANTARANEWS.CO – Kementerian Riset, Teknologi dan pendidikan Tinggi, yang dipimpin oleh menteri Muhammad Nasir pada tahun 2016 ini, punya proyek senilaiĀ  Rp 1,8 triliun. Atau nama nomenklatur proyek ini adalah “Sarana dan prasarana perguruan tinggi yg direvitalisasi” sebesar Rp 1.800.000.000.000 di direktorat jenderal sumber daya ilmu pengetahuan, teknologi dan pendidikan tinggi.

Lebih jelasnya, konon proyek ini dalam bentuk membuat sarana dan prasarana atau bantuan laboratorium untuk perguruan tinggi dari APBN. Proyek ini masih dalam bentuk pagu alokasi dan program di direktorat jenderal sumber daya ilmu pengetahuan, teknologi dan pendidikan tinggi atau belum dieksekusi dalam bentuk lelang sama sekali.

Tetapi proyek ini ke arah beroma bau penyimpangan. Atau seperti Proyek ini akan persis hampir mirip arau sama dengan apa yang pernah diselidiki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan keterlibatan kader partai demokrat, atau mantan bendahara umum partai demokrat, M. Nazaruddin atas korupsi pada proyek pengadaan pusat riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di lima perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Dimana, salah satu proyek ini juga sudah pernah di vonis di pengadilan tindak korupsi surabaya atas pengadaan alat laboratorium F MIFA Universitas Negeri Malang yang didanai dari APBN 2009. Dan modus korupsi nilai pembelian alat alat laboratorium itu lebih tinggi dibandingkan harga pokok satuan barang sehingga negara sangat dirugikan dalam proyek ini.

Untuk itu, CBA (center for budget analysis) meminta Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi dan pendidikan Tinggi), atau menteri Muhammad Nasir untuk segera menertibkan orang orang terdekat atau sekitarnya dalam “permainan” atau realisasi proyek ini. Lebih baik dan elegan, orang dekat menteri itu mengawas proyek ini, dan bukan bermain main proyek ini. Karena proyek Sarana dan prasarana perguruan tinggi yg direvitaslisasi tahun 2016 masuk dalam Kemenristekdikti hasil kerjasama yang baik dan sunyi antara “orang senayan” di dpr dari partai orde baru dengan orang internal di Kemenristekdikti.

Dan sekali meminta kepada pak menteri, Muhammad Nasir untuk pembangunan laboratorium di perguruan tinggi sangat dibutuhkan sekali, tapi jangan ada aroma korupsi lagi dong. Sebagai orang akademik atau perguruan tinggi, akan sangat malu bila terjadi penyimpangan proyek Sarana dan prasarana perguruan tinggi yang direvitaslisasi senilai Rp 1,8 Triliun. (Restu)

Komentar