80 Persen Anak Tidak Merasa Aman di Media Sosial. Foto/Ilustrasi: Dok. mindmake.com
80 Persen Anak Tidak Merasa Aman di Media Sosial. Foto/Ilustrasi: Dok. mindmake.com

NUSANTARANEWS.CO – Mayoritas anak-anak di Inggris merasa bahwa perusahaan media sosial tidak berbuat banyak untuk melindungi mereka dari pornografi, menyakiti diri sendiri, intimidasi dan kebencian di situs mereka. Demikian hasil sebuah penelitian yang ditemukan.

Empat dari lima anak yang disurvei mengaku bahwa situs web perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi para pengguna dari konten yang tidak tepat dan berbahaya. Kurangnya kontrol ketat menyebabkan banyak pesan menyakitkan berseliweran di media sosial. Hal ini berimplikasi menyebabkan anak-anak merasa negatif tentang diri mereka sendiri dan merugikan.

Dilansir Independent, temuan yang diterbitkan NSPCC da O2 ini merupakan hasil jajak pendapat terhadap 1.696 anak-anak dan remaja. Di antara situs (media sosial) yang dinilai berisiko bagi anak-anak dan remaja ialah ASKfm, Omegle, IMVU dan Facebook.

Untuk itu, NSPCC dan O2 mendesak agar orang tua melihat dan mencari-tahu tentang aplikasi yang kurang dikenal yang digunakan anak-anak mereka.

Meski 87 persen anak-anak dan remaja mengaku mereka tahu bagaimana menjaga dan melindungi diri agar tetap aman saat online, NSPCC mendorong orang tua untuk mengikuti perkembangan aplikasi dan masalah keselamatan anak-anak mereka. Penelitian ini lantas merekomendasikan orang tua untuk mengunjungi Net Aware.

Temuan ini terungkap dalam panduan Net Aware terbaru, panduan orang tua Inggris untuk 39 situs, aplikasi, dan permainan media terpopuler yang digunakan oleh kaum muda, diproduksi oleh NSPCC.

“Media sosial adalah cara bagus bagi kaum muda untuk tetap berhubungan teman mereka. Namun, penelitian kami dengan jelas menunjukkan bahwa anak-anak tidak merasa dilindungi dari konten yang mengganggu, berbahaya dan dewasa,” kata chief executive NSPCC, Peter Wanless.

“Orang tua sangat penting mengetahui tentang dunia online anak mereka dan secara teratur berbicara dengan anak-anak mereka tentang bagaimana mendapatkan pertolongan jika mereka membutuhkannya. Kita semua tahu bahwa internet berkembang dengan kecepatan tinggi dan hampir tidak mungkin untuk mengikuti semua situs, permainan, dan aplikasi yang terus berubah yang digunakan oleh kaum muda,” tambah Wanless.

Sementara, chief Marketing Officer O2, Nina Bibby mengatakan bahwa teknologi dapat memberikan peluang bagi anak-anak. “Penting bagi orang tua dan wali mereka untuk mengkontrol apa yang mereka lakukan,” kata Bibby.

“Orang-orang muda saat ini adalah generasidigital. Sementara banyak dari mereka tumbuh dengan pengetahuan bagaimana menggunakan berbagai situs web, aplikasi dan permainan yang ditawarkan, seringkali bisa terbukti lebih menakutkan bagi orang tua mereka untuk bersaing dengan mereka,” kata Bibby lagi.

Pewarta: Eriec Dieda
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar