Connect with us

Kreatifitas

50 Tahun Majalah Sastra Horison Dirayakan Penuh Romatisme Masa Lalu

Published

on

Jamal D. Rahman saat menunjukkan Majalah Sastra Horison edisi perdana dan edisi terakhir/Foto Selendang/Nusantaranews

Jamal D. Rahman saat menunjukkan Majalah Sastra Horison edisi perdana dan edisi terakhir/Foto Selendang/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Majalah Sastra Horison genap berusia setengah Abad pada 26 Juli 2016. Majalah sastra ternama yang eksis selama 50 tahun ini telah melahirkan banyak penyair, cerpenis, kritikus, dan budayawan besar di tanah air. Bahkan, pada masanya, majalah Horison menjadi barometer keberhasilan seorang seniman. Selain itu, Horison pun dinilai sebagai salah satu tolak ukur perkembangan dan pertumbuhan sastra Indonesia.

Acara Perayaaan ke 50 Tahun yang digelar di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pukul 12.00-15.00 WIB menjadi ajang beromantisme sekaligus pamitan dari para pangampunya. Sebab Di usianya yang ke-50 selain untuk mengenang mengenang H.B Jassih dan Mochtar Lubis, juga menjadi akhir bagi percetakan Majalah Sastra yang pernah berjuluk “majalah sang pembabtis” ini.

Dalam sambutannya, Pimpinan Redaksi Majalah Sastra Horison Jamal D. Rahman menyampaikan, bahwa Acara 50 Tahun Majalah Sastra Horison diadakan sekaligus untuk mengenang H.B Jassih dan Mochtar Lubis.

“Dua tokoh sastra ini berkaitan dengan bulan Juli. Jassin lahir pada 13 Juli 1917 (wafat 11 Maret 2000); Mochtar Lubis wafat pada 2 Juli 2014 (lahir 7 Maret 1922). Jassin adalah kritikus dan dokumentator sastra, yang juga pernah menjadi redaktur senior Horison. Adapun Mochtar Lubis adalah sastrawan dan wartawan terkemuka, dan salah seorang pendiri Horison,” terangnya di hadapan para 300-an hadirin yang memenuhi ruangan Galeri Cipta II.

Sebagai Pimpinan Redaksi dsekaligus pengulas sastra siswa di rubrik Kakilangit, Jamal menyampaikan sepak terjang majalah Horison selama 50 tahun. Mulai dari program-program Horison untuk para siswa (SD, SMP, SMA), mahasiswa, guru, hingga bagi para seniman Indonesia dalam rangka meningkatkan minat membaca, menulis, dan mengapresiasi sastra.

Baca Juga:  Pertempuran Diri, Cinta dan Tipu Daya - Puisi Saifu Ali
Loading...

“Di tengah semua program itu, sekali lagi Horison tetap menjalankan tugas lamanya: mendorong karya-karya kreatif dengan memuat puisi cerpen, esai, dan kritik. Juga secara insidental mengirimkan sastrawan ke forum-forum sastra, mengadakan lomba menulis karya sastra, dan memberikan penghargaan. Tapi bagaimanapun, dalam 20 tahun terakhir Horison telah mendedikasikan diri bagi dunia pendidikan dalam gerakan literasi. Jadi, dalam 30 tahun pertama usianya, Horison membentuk dirinya sebagai arena munculnya karya-karya kreatif dan pemikiran segar di bidang sastra-budaya,” terangnya.

Jamal pun menjelaskan peran Horison pada masa-masa selanjutnya. Di mana keberadaannya senantiasa mendorong lahirnya karya sastra dan pemikiran kreatif. “Dan dalam 20 tahun terakhir usianya, Horison juga mendedikasikan diri bagi dunia pendidikan dalam gerakan literasi,” Jamal menegaskan.

Namun sayang, diusianya yang ke-50 ini, Horison mesti realistis dengan posisinya di dalam dunia digital yang terus berkembang. Tidak hanya itu, meningkatnya biasa cetak juga menjadi salah perhitungan serius. Sehingga tidak boleh tidak, Horison memutuskan untuk bermetamorfosa menjadi media online yang sebenarnya telah disiapkan sejak tahun 2010 silam. Hal ini diakui dengan dengan penuh kesadaran Jamal D. Rahaman sebelum mengakhiri sambutannya.

Sebagai Pimpinan Redaksi Horison Jamal D. Rahman mewakini majalah sastra Horison yang resti tidak akan cetak lagi menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada semua pihak: sastrawan, kritikus sastra, akademisi sastra, indonesianis, semua relasi mulai birokrasi pemerintah sampai sponsor (baik pribadi maupun lembaga), pelukis, ilustrator, distributor, para pelanggan, dan pembaca setia Horison.

“Terima kasih juga kepada mereka yang pernah mengelola majalah ini, baik di jajaran redaksi, artistik, maupun menajemen. Hanya Tuhan juga yang dapat membalas semua kebaikan mereka,” pungkasnya. (Sulaiman)

Baca Juga:  Ibu, Ayah dan Senjaku - Puisi Faridatul Labibah
Loading...

Terpopuler