Kemacetan di New York. (Foto: babble.com/Ilustrasi)
NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Praktisi strategi inovasi dari Mata Garuda, Ferro Ferizka mengungkapkan tiga strategi kreatif yang dapat dijalankan masyarakat menghadapi tingkat kemacetan tinggi dari ibukota negara maupun ibukota daerah. Tujuannya, masyarakat dapat meningkatkan daya saing dan efektifitas kerja meski di tengah kemacetan.
“Era teknologi dan tingginya kemacetan di ibukota, kini justru dapat meningkatkan daya saing dan efektifitas masyarakat menjadi lebih baik,” ujarnya, Jakarta, Minggu (6/8/2017).
Ia menuturkan, tiga strategi kreatif tersebut tengah dikembangkan di banyak negara dunia, khususnya kalangan tech startup sebagai salah satu antisipasi untuk meningkatkan daya saing industri dan efektifitas kerja.
“Sehingga kemacetan di jalanan ibukota, kini seharusnya bukan lagi menjadi penyebab rendahnya daya saing dan efektifitas kerja masyarakat. Sebab ternyata, bekerja dapat dilakukan dimana saja se-efektif dilakukan di ruang kerja atau kantor,” jelas Ferro.
Tiga strategi
Pertama, perlu adanya trust atau kepercayaan terhadap karyawan dan rekan se-tim untuk mereka bisa bekerja di manapun. Hal ini menanamkan kepada setiap orang bahwa kepercayaan adalah hal mahal, merupakan hal mutlak yang harus diwujudkan.
“Layaknya gelas, ketika anda merusaknya, anda mungkin bisa menambalnya namun bentuknya tidak akan seperti sediakala,” ujarnya.
Poin pertama ini, kata Ferro, menekankan bahwa yang bekerja di dalam suatu perusahaan adalah pria atau wanita dewasa, bukan anak-anak yang harus selalu di-micromanage. Karena itu, penetapan stick and carrot terkait trust ini perlu dijalankan, tentu saja berdasarkan ukuran yang objektif dalam menilai kinerja.
“Seleksi alam akan terjadi, namun itu adalah untuk tujuan yang baik. Salah satu ketakutan HR leaders adalah ketika mereka bisa bekerja dari manapun, termasuk rumah, mereka justru tidak akan bekerja,” paparnya.
Kedua, perlu adanya accountability atau akuntabilitas yang jelas dan terdefinisikan dengan baik tentang target capaian dan key performance index (KPI) dari masing-masing karyawan. Sehingga pemahaman bahwa karyawan adalah aset untuk perusahaan mencapai tujuan benar-benar terwujud.
Dengan demikian, katanya lagi, cara objektif untuk mengukur ROI (return on investment) terhadap suatu headcount adalah dengan mengukur output-nya, bukan berapa lama seorang pekerja berada di kantor.
“Memang tidak semua role atau pekerjaan bisa di-flexible-kan. Profesi seperti security, maintenance mesin pabrik, operator mesin, manajer produksi, harus ada di lokasi. Namun posisi-posisi revenue generating, lead/prospect generating, corporate strategy, memiliki potensi untuk di-flexible-kan,” terang Ferro.
Ketiga, perlu adanya tools atau alat bantu teknologi yang dapat dapat tetap mewujudkan visibilitas, komunikasi dan koordinasi dalam tim.
Artinya, upaya menjelaskan visibilitas dilakukan dengan memiliki suatu single source of truth yang bisa menunjukkan capaian, KPI dari tim dan departemen. Semacam dashboard bisa membantu. Hal ini penting supaya setiap tim member berbicara bahasa yang sama meskipun berada di lokasi berbeda.
Selain itu, alat bantu sangat diperlukan untuk menjalin dan meningkatkan komunikasi antar tim sehingga progres pekerjaan dapat dimonitor secara transparan dan bertanggungjawab. Dan alat bantu juga sangat diperlukan dalam menjalankan koordinasi antar seluruh pihak terkait.
Gaya kerja fleksibel
Ferro menambahkan, 3 strategi kreatif diatas merupakan cara untuk menerapkan gaya kerja fleksibel yang kini mulai harus diangkat ke permukaan mengingat kehidupan masyarakat perkotaan dan juga kini perdesaan yang memiliki tingkat kemacetan jalanan tinggi.
Ia mencontohkan, salah satu perusahaan kaliber dunia yang menerapkan gaya kerja fleksibel adalah Microsoft. Dengan penyebaran hingga seluruh dunia, dapat dipastikan perusahaan itu memiliki tingkat reputasi baik, serta kesibukan yang sangat tinggi. Namun, implementasi gaya kerja fleksibel menjadi semangat Microsoft dalam meningkatkan daya saing serta efektivitas pekerjanya.
“Dengan menerapkan ketiga strategi ini, setiap pekerja akan mampu bekerja efektif, baik bagi perusahaannya dengan tetap tidak mengorbankan kesehatan diri sendiri, maupun kebahagiaan keluarga. Ini 3 strategi kreatif yang menjadi solusi di era teknologi dan kemacetan ‘tingkat dewa’ saat ini,” kata dia.
Langkah konkrit
Menanggapi itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan, pada intinya ukuran dasar dalam bekerja adalah produktivitas. Selama bisa dilakukan di tempat selain kantor, tidak ada masalah asalkan produktivitasnya tetap tinggi.
Berdasarkan laporan Global Competitiveness Index tahun 2017, persoalan daya saing Indonesia yang ada di urutan ke-41 dari 138 negara, terutama terletak pada persoalan produktivitas tenaga kerja yang rendah. Dalam konteks Jabodetabek atau kota-kota besar permasalahan kemacetan dan jangkauan antara rumah ke tempat kerja menjadi salah satu problem dari rendahnya produktivitas masyarakat dan karyawan.
“Saya kira jalan keluarnya adalah memberikan opsi pada karyawan untuk bekerja di tempat yang fleksibel. Tentu harus dicermati dari segi pekerjaannya. Jasa seperti konsultasi manajemen dan IT misalnya bisa mempraktikkan hal tersebut,” papar Bhima.
Data pemerintah
Menyitir data Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Ferro menerangkan, saat ini tingkat kemacetan Ibukota Negara Indonesia itu, terus meningkat. Bahkan produktivitas pekerja di DKI Jakarta, diperkirakan tergerus dari 100% jika tanpa kemacetan, menjadi tersisa 30% akibat kemacetan parah.
Hal itu dipicu dengan adanya 6 proyek Pemerintah Daerah DKI Jakarta, yang ditujukan untuk menurunkan tingkat kemacetan di masa mendatang. Keenam proyek itu adalah pembangunan Underpass Matraman sepanjang 650 meter, Underpass Mampang-Kuningan (750m), Underpass Kartini (390m), Flyover Bintaro (430m), Flyover Pancoran (750m), dan Flyover Cipinang Lontar (500m).
“Itu sebab, strategi kreatif meningkatkan produktivitas dan efektivitas kerja di tengah kemacetan, menjadi solusi serius yang harus dijalankan oleh setiap pekerja,” kata Ferro menambahkan.
Meski demikian, lanjut dia, pertanyaan penting yang harus diselesaikan lebih dulu adalah, seberapa serius suatu perusahaan melihat strategi kreatif itu menjadi solusi baginya. Selain itu, lanjutnya, implementasi di lapangan memerlukan sosialisasi intens kepada seluruh pekerja yang ada di suatu perusahaan.
“Keseriusan dan implementasi di lapangan ini, acapkali menjadi alasan perusahaan untuk tidak mau melakukannya. Jadi, sangat diperlukan perhatian dan upaya lebih untuk men-difusi-kan strategi kreatif ini kedalam kehidupan pekerja di Indonesia, apalagi dengan tingkat kesadaran yang masih perlu ditingkatkan,” pungkasnya. (ed)
Editor: Eriec Dieda

Komentar