Presiden China Xi Jinping/Foto: Dok. Reuters
Presiden China Xi Jinping/Foto: Dok. Reuters

NUSANTARANEWS.CO – Menurut seorang peneliti dari China Institute of International Studies, Tang Qifang gagasan Presiden Cina Xi Jinping untuk menjadikan negara komunis itu sebagai kekuatan baru pemerintahan dan ekonomi global merupakan langkah canggih. Gagasan tersebut, kata dia, lahir dari perubahan kondisi dunia dan pewujudan dari aspirasi Cina untuk saling berbagi perdamaian serta pembangunan dunia.

Sejak diusulkan Xi pada akhir tahun 2012 silam, Cina terus membangun jaringan dan hubungan diplomatik ke seluruh dunia membawa proposal dan langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan untuk semua. Sejak ribuan tahun lalu, Cina tergambar sebagai sebuah dunia di mana orang hidup dalam harmoni, kasih sayang antar satu sama lain, serta sebagai sebuah keluarga. Itulah yang kemudian dijadikan akar Presiden Xi untuk menggambarkan dunia baru yang diberi nama a community of common destiny (komunitas senasib untuk semua). Inilah konsep tatanan dunia pertama yang ditawarkan Cina.

“Konsep dari komunitas ini adalah takdir umum yang melampaui segala macam perbedaan dalam masyarakat dunia dan menargetkan keuntungan sebesar mungkin untuk semua,” kata Tang seperti dilansir Xinhua.

Menurutnya, ada jenis baru dari hubungan internasional yang menampilkan kerjasama win-win solution. Kerjasama tersebut berangkat dari skema the belt and road initiative sebagai konsep untuk menghubungkan dunia sehingga dapat terintegrasi. Tak hanya itu, Xi juga menawarkan konsep keamanan dunia baru yang dirancang untuk membangun keamanan universal, berkelanjutan dan komprehensif.

“Ini adalah gagasan yang sangat canggih lahir dari perubahan kondisi dunia, dan perwujudan dari aspirasi Cina untuk berbagi perdamaian dan pembangunan dunia,” kata Tang.

Di Kantor PBB di Jenewa pada 18 Januari, Xi akan menyampaikan pidato utama pada pembangunan komunitas tersebut, serta menekankan kembali bahwa Cina berkomitmen penuh untuk menciptakan satu rumah untuk semua umat manusia (one home for all of mankin).

Kedua, kemitraan bersama. Pada akhir 2012 silam, Xi menuturkan bahwa dunia telah semakin berkembang menjadi sebuah komunitas di mana takdir seseorang terjalin dengan yang lainnya. Persepsi Xi ini terus disampaikannya dalam sejumlah pidato di forum-forum internasional sebagai bentuk penegasan.

Xi memandang bahwa masa depan dunia ada di dalam genggaman semua negara dan semua bangsa. Sehingga perlu untuk terus mengupayakan dialog daripada berkonfrontasi secara fisik dalam menyikapi perubahan dan persoalan dunia. Menjalin kemitraan dan bukan membangun aliansi.

Cina mengklaim telah ada sejumlah negara yang menyetujui gagasan ini, seperti Pakistan, Laos dan Kamboja yang telah membentuk komunitas umum secara bilateral demi perluasan konvergensi kepentingan banyak negara. Cina juga terus mendorong untuk mengembangkan komunitas serupa di negara-negara Asia Tenggara, Afrika, Eropa, Amerika Latin dan Timur Tengah.

Dalam perjalanan mengejar kemitraan bersama, Cina secara aktif berpartisipasi dalam mereformasi sistem pemerintahan global dengan mengatasi aspek yang tidak masuk akal dan sistem yang dinilai tidak adil. Sehingga, pada KTT G20 di Hangzhou tahun lalu, Cina benar-benar memanfaatkan momentum tersebut untuk menyerukan pemerintahan yang adil, keuangan global yang efisien, inklusif, perdagangan yang transparan dan investasi global. Tak lupa pula muncul komitmen mengurangi emisi karbon global, inklusifitas pembangunan global, serta pemerintahan dunia saling menyokong merupakan prioritas Cina untuk mengelola tatanan ekonomi global. Sekaligus, Cina berkomitmen untuk berkontribusi secara bijak terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

“Orang Cina di PBB akan selalu menjadi milik negara-negara berkembang,” tegas Xi dalam sidang PBB pada 2015 silam. Dia juga menganjurkan menilai kebenaran dan kepentingan dalam membentuk hubungan internasional. dan ini telah menjadi prinsip penting Cina dalam membimbing kerjasama dengan negara-negara berkembang lainnya.

“Xi Jinping dan pesan yang disampaikannya menunjukkan kepada dunia bahwa Cina menjalankan tanggungjawabnya untuk berpartisipasi dalam menetapkan aturan internasional dan mereformasi sistem pemerintahan global,” kata Direktur Studi Cina-ASEAN di Thailand Panyapiwat Institute of Management, Tang Zhimin.

Ketiga, pengembangan pembangunan inklusif. Gagasan komunitas bersama yang dibangun Xi adalah upaya membangun satu negara dengan negara lainnya berhubungan erat dan menyatu. “Cina akan selalu bekerja untuk memberikan kontribusi terhadap pembangunan global. Pembangunan untuk semua dengan pengambangan nyata,” kata Xi.

Faktor pendukung dari semua itu adalah gagasan the belt and road Initiative, the Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB),  the South-South Cooperation Fund, dan peningkatan investasi Cina di negara-negara berkembang di dunia. AIIB mengalokasikan pinjaman sebesar 1,73 miliar dolar AS untuk sembilan proyek infrastruktur di tujuh negara yang telah beroperasi sejak Januari 2016, tahun lalu.

Guna menghubungkan 60 negara dallam skema Jalur Matirim Sutra Abad 21, skema The Belt and Road Initiative disebut Cina merupakan strategi pembangunan nasional dan daerah, seperti proyek kereta api, jalan dan pelabuhan.

Dalam bidang keamanan, Cina dikatakan Xi tidak mau hanya sekadar bicara. Tetapi, kata dia, tindakan kongkret sangat dibutuhkan dan mendesak. Apalagi guna memuluskan proyek pembangunan yang telah diivestasikan, Cina amat sangat berkepentingan untuk turut serta menciptakan perdamaian dunia. Salah satu langkah kongkret China adalah meninkatkan dukungan untuk upaya perdamaian PBB, di mana hingga saat ini China telah mengirimkan 2.500 personel militernya yang terlibat dalam sembilan operasi penjaga perdamain PBB.

“Tidak ada negara sendirian dapat mencari keamanan mutlak untuk dirinya sendiri, dan hal itu tidak bisa mendapatkan stabilitas dari kerusuhan di negara-negara lain,” direktur departemen penelitian Eropa di China Institute of International Studies, Cui Hongjian.

Sebanyak 10,2 persen Cina berkomitmen mengerahkan tenaganya untuk kepentingan perdamaian dunia melalui PBB. “Cina telah menunjukkan kepada dunia bahwa sebagai negara yang bertanggungjawab, itu akan melanjutkan upaya menuju tujuan mencapai pembangunan umum bagi umat manusia,” kata Zhu Shuai, seorang peneliti di Pusat Informasi Pengembangan Industri Cina. (Sego/ER)

Komentar