Ekonomi

3 Alasan Krusial Mengapa Presiden Cina Disorot di WEF

Presiden China Xi Jinping/Foto: Dok. Reuters
Presiden China Xi Jinping/Foto: Dok. Reuters

NUSANTARANEWS.CO – Tidak mudah bagi Presiden Cina, Xi Jinping bicara di depan forum ekonomi dunia (WEF) di Davos, Swiss. Apalagi tema yang digagas Xi adalah isu terkait dengan globalisasi dan perdagangan bebas karena kedua isu tersebut mendapat pertentangan keras di Amerika Serikat dan Eropa. Naiknya Trump ke Gedung Putih membuat pidato Xi di Davos menyangkut dua isu itu diawasi.

Pembawaan Xi yang tampak tenang, meyakinkan Menteri Informasi Dewan Negara Cina, Jiang Jianguo bahwa Xi akan sukses menyampaikan gagasannya tentang obat penawar penyakit ekonomi dunia.

Jianguo mengungkapkan bahwa pidanto Xi di WEF mencakup tiga hal krusial. “Jadi apa yang akan disampaikannya amat penting. Saya akan menyaksikannya,” ujar Jianguo seperti dilansir BBC, Selasa (17/1/2017).

Baca:

Pertama, perdagangan bebas adalah model perdagangan yang baik. Bagi Cina, globalisasi telah mampu memberikan manfaat positif bagi Negara Tirai Bambu dibanding negara lain di dunia. Di tengah-tengah penolakan AS terhadap globalisasi dan perdangan bebas, Xi justru cenderung memuji manfaatnya, dan ingin menjadikan Cina sebagai mitra dangan baru dan ramah di dunia. Kata Jianguo.

Jianguo sadar, kritik tentu saja akan dihadapi Cina. Apalagi kebijakan Cina yang hendak membuka perekonomiannya telah dinilai sebagian pihak upaya untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Dan Xi akan menjawab isu miring tersebut karena hal itu juga menjadi penentu masa depan perekonomian Cina.

Kedua, Cina sebagai kekuatan untuk perdamaian, bukan perang. Konflik Laut Cina Selatan beberapa dekade belakangan telah menyulut perperangan di kawasan Asia Pasifik. Untuk itu, isu perang ini menjadi bagian dari diplomasi publik Cina untuk meyakinkan dunia bahwa kebangkitan Cina adalah hal yang baik untuk semua orang. Xi cenderung untuk menyajikan gambaran Cina kepada dunia bahwa negara komunis itu teman untuk semua orang.

“Panda besar yang indah bahwa setiap orang harus memeluk, dan setiap orang harus tetap tenang,” kata Prof Kerry Brown dari Laui China Institute di King College London.

Tapi ini mungkin akan sulit, terutama mengingat masih adanya kecemasan tentang kekuatan militer Cina di Laut Cina Selatan. Davos adalah kesempatan yang baik untuk menantang persepsi ini. Kata Jia Xiudong di China Institute of International Affairs di Beijing. “Negara-negara lain mungkin melihat Cina agresif, negara keras. Tapi ini adalah kesalahpahaman. Itulah mengapa hal itu seperti kesempatan yang baik bagi presiden untuk berkomunikasi pesannya,” tambah dia. Kendati Cina mengkampanyekan perdamaian dunia, sejumlah peristiwa kekerasan di Tibet tentu saja akan menjadi batu sandungan tersendiri bagi Cina yang berambisi menyerukan perdamaian dunia.

Ketiga, tentang simbolisme konyol. Xi tentu tengah menikmati popularitasnya yang terus menanjak di Cina. Begitu pula di panggung internasional, Xi juga tengah berusaha mengangkat popularitasnya tersebut. Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos akan dimanfaatkan Xi untuk menangguk popularitasnya di mata dunia.

“Citra kepemimpinan Amerika sedikit merosot di mata dunia usai pemilu. Dan Cina lebih menonjol, sehingga cukup signifikan,” kada Prof Brown. Dengan kata lain, Xi memanfaatkan situasi kepemimpinan AS yang tengah menyusut pasca pemilu yang memenangkan Doland Trump. Isu lain yang akan mempertegas popularitas Xi adalah gagasannya tentang globalisais inklusif dan sikap Cina terhadap perdagangan bebas. Di tengah penolakan Trump terhadap dua isu tersebut, Xi justru mendukungnya dengan gagasan baru tentang tatanan dunia baru atas nama globalisasi yang lebih inklusif.

Selain itu, meski menjadi bintang panggung di Davos, Xi harus menerima kenyataan dirinya pasti akan mendapatkan kritikan tajam terkait dengan kondisi internal Cina sendiri yang disebut-sebut tengah dihadapkan dengan sejumlah persoalan serius. Ekonomi China melambat dan mata uangnya, Yuan, melemah ke posisi terendah yang tidak terjadi sejak tahun 2008 silam. Selain itu, Beijing juga tengah dalam kondisi prihatin menyusul ditemukannya kesenjangan yang tumbuh pesat antara si kaya dan si miskin, yang memukul stabilitas sosial.

Lantas bagaimana Xi akan menjelaskan semua persoalan di internal Cina tersebut? Sementara di panggung dunia Xi sangat ambisius dengan berbagai gagasan yang hendak membuat tatanan dunia baru? (Sego/Er)

Komentar

To Top